Dari Kasih Sayang Orang Tua, Merantau, hingga Membangun Digitalisasi Sekolah
Sebuah perjalanan hidup yang dimulai dari keluarga sederhana yang penuh kasih sayang, ditempa oleh pendidikan, perantauan dan pengalaman, kemudian menemukan jalan pengabdian melalui pendidikan, teknologi, inovasi, dan keinginan untuk terus memberikan manfaat.

Saya Lahir dari Keluarga yang Kaya Akan Kasih Sayang
Saya lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang mungkin tidak selalu memiliki banyak hal secara materi, tetapi bagi saya adalah keluarga yang sangat kaya akan kasih sayang, pengetahuan, agama, etika, sopan santun, dan adab tatakrama.
Sejak kecil, kedua orang tua selalu memberikan perhatian yang begitu besar terhadap pendidikan dan kehidupan saya. Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, saya tumbuh dalam suasana keluarga yang hangat. Saya diperhatikan, diarahkan, dinasihati, tetapi sekaligus diberikan ruang untuk belajar memahami kehidupan.
Kini, setelah melewati perjalanan hidup yang panjang, saya semakin menyadari bahwa pendidikan pertama dan paling penting ternyata bukan dimulai dari sekolah. Pendidikan pertama saya dimulai dari rumah.
Dari Ayah dan Ibu saya belajar bahwa ilmu harus berjalan bersama adab. Bahwa kepandaian tidak cukup jika tidak memiliki sopan santun. Bahwa menghormati orang lain adalah bagian dari kehidupan. Dan bahwa menjadi manusia yang baik jauh lebih penting daripada sekadar terlihat berhasil.
Terima Kasih untuk Ayah
Semakin dewasa, semakin saya menyadari ada begitu banyak hal sederhana dari Ayah yang ternyata memiliki makna sangat besar dalam hidup saya.
Salah satunya adalah cara Ayah mendidik anak-anaknya. Ayah tidak pernah memukul saya. Bukan hanya tidak memukul secara fisik, tetapi Ayah juga tidak mendidik dengan bentakan, cacian, hinaan, atau kekerasan verbal.
Saya tumbuh dengan merasakan bahwa nasihat dapat disampaikan tanpa harus melukai. Kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus direndahkan. Anak dapat diarahkan tanpa harus dibuat takut.
Mungkin pada masa kecil saya tidak pernah berpikir bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang istimewa. Namun setelah dewasa, setelah melihat begitu banyak karakter manusia dan menjalani kehidupan yang lebih luas, saya semakin memahami betapa berharganya cara Ayah membesarkan kami.
Terima kasih, Ayah.
Terima kasih telah mengajarkan ketegasan tanpa kekerasan, mengajarkan tanggung jawab tanpa merendahkan, dan menunjukkan bahwa seorang anak dapat tumbuh dengan baik melalui kasih sayang, keteladanan, dan nasihat.
Nilai itulah yang kemudian tanpa saya sadari ikut terbawa ketika saya sendiri mulai berhadapan dengan siswa dan dunia pendidikan.
Saudara: Tumbuh Bersama dalam Keharmonisan
Saya juga bersyukur tumbuh bersama saudara-saudara dalam suasana yang akrab, rukun, dan harmonis.
Kami belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat untuk tinggal bersama, tetapi tempat untuk saling menguatkan. Ketika ada yang mengalami kesulitan, yang lain berusaha membantu. Ketika ada yang mendapatkan kebahagiaan, yang lain ikut merasakan kebahagiaan tersebut.
Hubungan persaudaraan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang sangat berarti dalam perjalanan hidup saya. Tidak selalu harus dalam bentuk yang besar. Terkadang cukup dengan hadir, bertanya, membantu, atau sekadar memberikan semangat.
Saya bersyukur memiliki keluarga dan saudara yang saling mendukung. Karena dalam perjalanan hidup yang panjang, kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Masa Sekolah dan Awal Mengenal Dunia Teknologi
Ketika memasuki pendidikan kejuruan, ketertarikan saya terhadap dunia teknologi mulai tumbuh. Komputer menjadi sesuatu yang membuat saya penasaran. Saya ingin memahami bagaimana sebuah perangkat bekerja, bagaimana sesuatu dapat dibuat, dan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Namun perjalanan belajar tersebut tidak selalu berada dalam keadaan serba lengkap.
Justru dari keterbatasan saya belajar untuk kreatif. Saya pernah mengalami masa ketika dari singkong pun saya belajar membuat teknologi.
Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi saya, pengalaman tersebut menjadi simbol bahwa belajar tidak selalu harus menunggu fasilitas yang sempurna.
Ketika tidak memiliki banyak sumber daya, kita harus lebih kreatif. Ketika tidak memiliki banyak pilihan, kita belajar menciptakan pilihan. Dan ketika belum tahu, kita belajar untuk mencoba.
Kelas Dua SMK: Perjalanan Panjang Bersama Ibu
Memasuki kelas dua SMK, kehidupan keluarga saya mengalami sebuah ujian yang sangat berarti.
Ibu mengalami sakit yang berkepanjangan.
Bagi seorang anak, melihat orang tua yang dicintai menjalani sakit bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih ketika kita sendiri masih berada dalam usia sekolah dan sedang berusaha memahami masa depan.
Hari-hari yang seharusnya dipenuhi dengan cerita tentang sekolah, teman, cita-cita, dan masa depan, pada saat yang sama juga diwarnai dengan kekhawatiran tentang kondisi Ibu.
Namun Ibu tetap menjadi sosok yang mengajarkan saya tentang ketabahan. Dalam keadaan sakit, saya melihat bagaimana seseorang tetap berusaha menjalani kehidupan.
Waktu terus berjalan.
Saya menyelesaikan sekolah, menjalani kehidupan, kemudian menikah dan dikaruniai seorang anak. Tetapi perjuangan Ibu bersama sakitnya masih terus berlangsung.
Hingga akhirnya tiba pada sebuah hari yang paling berat dalam kehidupan saya: Ibu dipanggil oleh Sang Maha Kuasa.
Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kehilangan seorang ibu bukan hanya kehilangan seseorang yang melahirkan kita. Ia adalah kehilangan sosok yang menjadi bagian dari awal kehidupan kita, tempat kita mengenal kasih sayang, tempat kita belajar merasa aman, dan tempat banyak kenangan kehidupan bermula.
Saya tentu bersedih. Sampai kapan pun, seorang anak akan selalu memiliki ruang khusus untuk ibunya.
Namun perlahan saya belajar bahwa mengenang Ibu tidak harus selalu dengan kesedihan. Saya ingin mengenangnya dengan rasa syukur.
Saya bersyukur pernah menjadi anaknya.
Saya bersyukur pernah merasakan kasih sayangnya. Bersyukur pernah mendengar nasihatnya. Bersyukur pernah mendapatkan perhatian darinya. Dan bersyukur karena nilai-nilai yang beliau tanamkan tetap menjadi bagian dari diri saya hingga hari ini.
Meski kini Ibu telah lebih dahulu kembali kepada Sang Maha Kuasa, kenangan tentang Ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam ingatan, dalam doa, dalam keluarga, dan dalam nilai-nilai yang terus saya bawa dalam menjalani kehidupan.
Setelah Lulus SMK
Setelah lulus SMK, Saya justru menjalani proses merantau dari satu kota ke kota lainnya. Saya pernah singgah dan mencari pengalaman di berbagai tempat, di antaranya Kuningan, Cirebon, Bandung, Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.
Perjalanan dari satu kota ke kota lain tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan saya.
Saya belajar bahwa setiap kota memiliki karakter, lingkungan, peluang, dan tantangan yang berbeda. Saya bertemu dengan banyak orang, melihat berbagai jenis pekerjaan, dan perlahan memahami bahwa dunia kehidupan jauh lebih luas daripada apa yang pernah saya bayangkan ketika masih duduk di bangku sekolah.
Dari perjalanan tersebut saya belajar mandiri. Belajar menyesuaikan diri. Belajar bekerja. Belajar menghadapi ketidakpastian. Dan yang paling penting, belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
2006: Membuka Babak Baru di Tanah Papua
Setelah melewati berbagai pengalaman di beberapa kota, pada tahun 2006 perjalanan saya membawa saya lebih jauh lagi: ke tanah Papua, tepatnya Papua Barat, Manokwari.
Saya singgah di kawasan Wosi. Bagi saya, kedatangan ke Papua bukan sekadar perpindahan tempat. Ini adalah sebuah babak baru dalam kehidupan.
Di sana saya kembali menemukan dunia yang sangat dekat dengan diri saya: teknologi komputer.
Saya mulai menjalani pekerjaan sebagai teknisi komputer, menangani perangkat keras dan perangkat lunak, sekaligus memperluas pengetahuan tentang jaringan komputer, termasuk mulai belajar dan memahami Local Area Network (LAN).
Namun ternyata pekerjaan dan pengalaman di Papua tidak berhenti pada komputer.
Lingkup pekerjaan semakin berkembang. Saya mulai mengenal dan terlibat dalam pekerjaan administrasi kantor, memahami bagaimana sebuah kantor bekerja, bagaimana dokumen dikelola, bagaimana pekerjaan harus terorganisasi, dan bagaimana teknologi dapat mendukung pekerjaan administratif.
Dari sana pengalaman saya kembali berkembang ke bidang yang lebih luas, termasuk terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan konsultansi konstruksi, menggambar, dan arsitektur.
Tanpa saya sadari, Papua menjadi salah satu tempat yang memperluas cakrawala saya. Saya datang dengan bekal komputer, tetapi pulang dengan pengalaman yang jauh lebih luas tentang teknologi, pekerjaan, administrasi, gambar, konstruksi, dan kehidupan.
2009: Pulang ke Kampung Halaman
Setelah menjalani pengalaman di tanah Papua, saya kembali ke kampung halaman pada tahun 2009.
Kepulangan tersebut ternyata menjadi pintu masuk menuju fase baru dalam kehidupan saya.
Saya kemudian singgah di SMK Swadaya PUI Kuningan. Bekal yang saya bawa bukan hanya ijazah dan pengetahuan dari sekolah, tetapi juga pengalaman merantau, pengalaman bekerja, serta pengalaman teknis yang saya peroleh dari berbagai tempat.
Pada awalnya saya lebih banyak berada di dunia teknis sebagai orang yang dekat dengan komputer dan berbagai persoalan teknologi.
Tetapi ternyata perjalanan saya di sekolah tersebut tidak berhenti sebagai seorang teknisi.
Dari Teknisi Masuk ke Ruang Kelas
Sekitar dua tahun kemudian, perjalanan saya kembali berubah. Guru yang sebelumnya mengajar KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) mendapat tugas untuk beralih ke sekolah lain.
Kemudian saya dipercaya untuk mengambil peran mengajar.
Di sinilah saya mengalami salah satu perubahan terbesar dalam hidup: dari seorang yang terbiasa bekerja dengan komputer, saya harus berhadapan langsung dengan siswa di dalam kelas.
Saya tidak memasuki ruang kelas dengan pengalaman panjang sebagai seorang guru. Saya belajar sambil menjalani prosesnya.
Saya belajar bagaimana berbicara di depan siswa. Belajar bagaimana menjelaskan sesuatu yang bagi saya mungkin sederhana, tetapi belum tentu sederhana bagi siswa. Belajar memahami karakter yang berbeda-beda. Belajar bersabar.
Dan perlahan saya menyadari bahwa mengajar ternyata bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala siswa.
Mengajar adalah proses membantu seseorang tumbuh.
2011–2012: Sebuah Gagasan untuk Membangun TKJ
Dari pengalaman mengajar komputer, muncul sebuah pemikiran: mengapa pengetahuan tentang komputer tidak dikembangkan menjadi sebuah program keahlian yang lebih terarah?
Dari situlah muncul gagasan untuk mengembangkan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Gagasan tersebut saya usulkan sekitar tahun 2011. Kemudian pada tahun 2012, jurusan TKJ mulai berdiri.
Bagi saya, lahirnya TKJ bukan hanya tentang membuka sebuah jurusan baru. Ada cita-cita agar siswa memiliki keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja.
Saya ingin siswa tidak hanya memahami komputer, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
2013: Dipercaya Menjadi Kaprodi TKJ
Pada tahun 2013, saya dipercaya menjadi Kepala Program Keahlian TKJ.
Kepercayaan tersebut menjadi amanah sekaligus ruang belajar yang lebih besar bagi saya.
Saya mulai terlibat lebih jauh dalam pengembangan kurikulum, pola pembelajaran, pembinaan siswa, budaya jurusan, etika, kedisiplinan, serta berbagai inovasi yang dapat membuat siswa tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
Saya percaya bahwa anak-anak TKJ tidak cukup hanya bisa memperbaiki komputer, memasang jaringan, atau membuat aplikasi.
Mereka harus belajar bagaimana berbicara dengan baik, menghargai orang lain, bekerja sama, bertanggung jawab, menjaga etika, dan memahami bahwa teknologi harus digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.
Teknologi Mulai Menjadi Cara Saya Berkarya
Seiring perjalanan sebagai guru dan Kaprodi, saya semakin dekat dengan dunia pengembangan aplikasi.
Saya mulai membuat berbagai aplikasi untuk membantu pekerjaan. Ada yang berbasis CMS dan web application, ada pula yang menggunakan Macro Microsoft Excel.
Banyak di antaranya lahir dari kebutuhan sederhana. Ketika melihat pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang, saya mulai berpikir: apakah pekerjaan ini bisa dibuat lebih mudah?
Tidak semua inovasi yang saya buat mendapatkan perhatian seperti yang saya harapkan. Ada aplikasi yang akhirnya hanya digunakan untuk membantu kebutuhan guru atau pekerjaan internal.
Namun saya tidak pernah menganggap pengalaman tersebut sia-sia.
Justru dari sanalah saya belajar bahwa sebuah inovasi tidak selalu langsung mendapatkan penghargaan. Kadang kita harus terus berkarya meskipun belum banyak yang melihat.
Selama sesuatu yang saya buat dapat membantu pekerjaan, memberikan kemudahan, atau memberikan manfaat kepada orang lain, bagi saya itu sudah menjadi alasan untuk terus mencoba.
2022: Melanjutkan Perjalanan ke SMAN 1 Jalaksana
Setelah perjalanan panjang di lingkungan SMK, pada tahun 2022 saya melanjutkan pengabdian di SMA Negeri 1 Jalaksana.
Saya datang membawa banyak pengalaman: pengalaman sebagai anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, pengalaman sebagai seorang perantau, teknisi komputer, pekerja, guru, pengembang jurusan, dan Kaprodi.
Tetapi ketika memasuki lingkungan baru, saya kembali merasa seperti seorang pembelajar.
Saya melihat adanya tantangan dalam proses digitalisasi sekolah. Masih banyak pekerjaan dan layanan yang memiliki ruang untuk dikembangkan dengan teknologi.
Dan kebiasaan lama itu kembali muncul: ketika melihat sebuah persoalan, saya ingin mencari solusi.
Dari Web Sekolah hingga Digitalisasi Berbagai Layanan
Perlahan saya mulai mengembangkan berbagai sistem digital sesuai kebutuhan sekolah.
Mulai dari Web Sekolah, portal presensi pegawai, presensi siswa, sistem informasi, pengelolaan data, hingga berbagai aplikasi pendukung administrasi menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Setiap aplikasi memiliki cerita. Setiap sistem memiliki tantangan. Tidak semuanya langsung sempurna.
Ada proses mencoba. Ada kesalahan. Ada perbaikan. Ada perubahan. Kemudian diuji kembali.
Tetapi justru proses itulah yang membuat saya semakin menikmati dunia teknologi.
Karena saya menyadari bahwa teknologi bukan sekadar tentang kode program. Di balik sebuah sistem ada manusia yang membutuhkan kemudahan.
Dari Perjalanan Hidup Menjadi Cara Saya Bekerja
Jika saya melihat kembali perjalanan hidup ini, ternyata hampir semua fase memiliki hubungan satu sama lain.
Keluarga mengajarkan saya tentang karakter.
Sekolah mengajarkan saya tentang ilmu.
Perantauan mengajarkan saya tentang kemandirian.
Papua mengajarkan saya tentang luasnya pengalaman.
Dunia teknis mengajarkan saya memecahkan masalah.
Dunia pendidikan mengajarkan saya kesabaran.
Menjadi Kaprodi mengajarkan saya tentang tanggung jawab dan kepemimpinan.
Dan teknologi mengajarkan saya untuk terus menciptakan solusi.
Semua pengalaman itu akhirnya menjadi satu kesatuan yang membentuk cara saya bekerja dan menjalani kehidupan.
Sebuah Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rancang Sedetail Ini
Kalau dipikir kembali, saya tidak pernah merancang perjalanan hidup ini dengan sedetail sekarang ketika melihatnya dari masa kini.
Saya hanya menjalani satu langkah demi satu langkah.
Dari rumah. Ke sekolah. Kemudian merantau. Dari satu kota ke kota lainnya. Lalu ke Papua. Menjadi teknisi. Kembali ke kampung halaman. Masuk sekolah. Menjadi guru. Mengembangkan TKJ. Menjadi Kaprodi. Dan akhirnya melanjutkan pengabdian di SMAN 1 Jalaksana.
Ternyata setiap persinggahan memiliki tujuan. Setiap pengalaman meninggalkan pelajaran. Dan setiap kesulitan diam-diam sedang mempersiapkan saya untuk menghadapi tahap berikutnya.
Tentang Syukur
Jika hari ini saya ditanya apa yang paling saya rasakan ketika melihat kembali perjalanan hidup ini, jawabannya sederhana: saya bersyukur.
Saya bersyukur dilahirkan dari orang tua yang memberikan kasih sayang dan pendidikan agama serta adab sejak kecil.
Saya bersyukur memiliki Ayah yang mendidik tanpa kekerasan, tanpa bentakan, dan tanpa kata-kata yang merendahkan.
Saya bersyukur memiliki Ibu yang telah memberikan kasih sayang dan menjadi bagian penting dari awal kehidupan saya, meskipun akhirnya harus saya relakan kembali kepada Sang Maha Kuasa.
Saya bersyukur memiliki saudara-saudara yang tumbuh bersama dalam keakraban, keharmonisan, saling mendukung, dan saling membantu.
Saya bersyukur pernah merasakan menjadi seorang pelajar, pernah merasakan keterbatasan, pernah merantau dari kota ke kota, pernah menjalani kehidupan di Papua, dan pernah belajar menjadi mandiri.
Saya bersyukur pernah menjadi teknisi komputer, belajar hardware, software, jaringan, administrasi, menggambar, konstruksi, hingga arsitektur. Semua pengalaman itu memperkaya cara saya melihat dunia.
Saya bersyukur pernah mendapatkan kesempatan menjadi guru, meskipun pada awalnya saya sendiri belum tahu seperti apa menjadi seorang guru.
Saya bersyukur pernah dipercaya menggagas dan mengembangkan TKJ, pernah menjadi Kaprodi, dan mendapatkan kesempatan untuk belajar memimpin serta mendidik.
Dan saya sangat bersyukur ketika pada tahun 2022 perjalanan hidup ini membawa saya ke SMA Negeri 1 Jalaksana.
Di tempat ini saya kembali menemukan ruang untuk belajar, mengajar, berkarya, dan mengembangkan teknologi.
Saya tidak tahu sampai kapan perjalanan ini akan berlangsung. Saya juga tidak tahu apa yang akan saya bangun di masa yang akan datang.
Tetapi saya ingin terus menjalani semuanya dengan hati yang sama: rendah hati ketika belajar, tulus ketika membantu, sungguh-sungguh ketika bekerja, dan ikhlas ketika memberikan manfaat.
Sebab semakin jauh perjalanan yang saya lalui, semakin saya memahami bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian.
Hidup adalah tentang siapa yang telah menemani kita, siapa yang telah mendidik kita, siapa yang telah mendoakan kita, siapa yang pernah menolong kita, dan apa yang akhirnya dapat kita berikan kembali kepada kehidupan.
Untuk Ayah, Ibu, saudara-saudaraku, keluarga, guru-guru, sahabat, rekan kerja, dan semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini: terima kasih.
Dan untuk Ibu yang telah lebih dahulu kembali kepada Sang Maha Kuasa, semoga setiap kebaikan yang saya lakukan, setiap ilmu yang saya bagikan, dan setiap manfaat yang dapat saya berikan kepada orang lain menjadi bagian dari doa yang terus mengalir untuk Ibu.
Perjalanan ini mungkin sederhana, tetapi saya bersyukur pernah menjalaninya.
Dan selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus belajar, terus berkarya, terus berbagi, dan terus memberikan manfaat.
i@m_iding
Education • Technology • Innovation • Digital Solution
Diskusi & Komentar Artikel
Diskusi dimoderasi untuk menjaga percakapan tetap relevan, aman, dan nyaman bagi pembaca.