Portal Layanan Digital & Teknologi Pendidikan Kuningan, Jawa Barat · Personal Web v14.0.0
Inovasi
Beranda›Artikel›Cerita di Balik Pembuatan Sistem Presensi Digital
CERITA PERJALANAN • TEKNOLOGI • PENDIDIKAN • DIGITALISASI

Dari Teknisi Komputer, Menjadi Guru, hingga Membangun Digitalisasi Sekolah

Sebuah perjalanan yang bermula dari dunia teknis, berlanjut ke ruang kelas, kemudian berkembang menjadi sebuah kebiasaan untuk mencari masalah, menciptakan solusi, dan membangun teknologi yang benar-benar digunakan untuk membantu pekerjaan di lingkungan sekolah.

💻 Teknologi   •   👨‍🏫 Pendidikan   •   ⚙️ Inovasi   •   🏫 Digitalisasi Sekolah
Perjalanan inovasi teknologi dan digitalisasi sekolah iam_iding
Teknologi bagi saya bukan sekadar aplikasi, tetapi cara untuk menyelesaikan persoalan yang nyata.

Sebelum Menjadi Guru, Saya Berangkat dari Dunia Teknis

Sebelum berada di SMAN 1 Jalaksana, perjalanan saya justru dimulai dari lingkungan sekolah swasta. Saya pernah menjadi tenaga honorer di SMK Swadaya PUI Kuningan, sekolah kejuruan yang berada di Jalan H. Bakri No. 94 Cilimus. Sekolah ini memiliki perjalanan panjang dalam pendidikan kejuruan dan saat ini salah satunya memiliki konsentrasi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Saya mulai berada di lingkungan tersebut sekitar tahun 2009. Pada masa awal, saya lebih dekat dengan pekerjaan teknis. Komputer, perangkat keras, jaringan, instalasi, troubleshooting, dan berbagai persoalan teknis menjadi bagian dari keseharian saya.

Saat itu saya tidak pernah membayangkan bahwa dunia teknis tersebut justru akan membawa saya masuk lebih jauh ke dunia pendidikan. Saya terbiasa berpikir dengan pola sederhana: ketika ada masalah, cari penyebabnya, pahami sistemnya, kemudian cari cara agar masalah tersebut dapat diselesaikan.

💡 Pola berpikir teknisi ternyata menjadi bekal pertama saya sebagai pendidik.
Saya belajar bahwa sebuah persoalan tidak selalu harus diselesaikan dengan cara yang sama. Selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki, menyederhanakan, dan menciptakan cara baru.

Dari Teknisi Menjadi Guru Tanpa Bekal Pengalaman Mengajar

Sekitar dua tahun kemudian, perjalanan saya berubah. Guru asal dari bidang yang sebelumnya mengajar KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) memasuki masa pensiun.

Pada saat itu saya dipercaya untuk menggantikannya. Di sinilah saya mengalami perubahan besar dalam perjalanan hidup saya: saya yang sebelumnya lebih banyak berkutat dengan komputer dan pekerjaan teknis, harus masuk ke ruang kelas dan mengajar siswa.

Saya tidak datang dengan pengalaman mengajar yang panjang. Saya belajar mengajar sambil menjalani prosesnya. Belajar bagaimana menghadapi siswa, bagaimana menjelaskan sesuatu yang secara teknis saya pahami, tetapi belum tentu mudah dipahami oleh orang lain, serta bagaimana mengubah pengetahuan menjadi pengalaman belajar.

Justru dari kondisi tersebut saya mulai memahami satu hal penting: menguasai teknologi tidak otomatis berarti mampu mengajarkannya. Seorang guru harus mampu menerjemahkan sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang dapat dipahami, dipraktikkan, dan dirasakan manfaatnya oleh siswa.

“Dunia teknis mengajarkan saya bagaimana sebuah sistem bekerja. Dunia pendidikan mengajarkan saya bagaimana manusia belajar.”

Sebuah Ide yang Kemudian Menjadi Jurusan TKJ

Ketika mulai terlibat dalam pembelajaran komputer, saya melihat adanya peluang yang lebih besar. Komputer tidak cukup hanya diajarkan sebagai materi. Siswa membutuhkan ruang untuk belajar teknologi secara lebih spesifik dan lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

Dari pemikiran tersebut kemudian muncul gagasan untuk mengembangkan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Usulan pengembangan tersebut mulai diperjuangkan sekitar tahun 2011 dan kemudian berkembang menjadi jurusan yang berdiri pada tahun 2012.

Bagi saya, lahirnya jurusan tersebut bukan hanya tentang menambah sebuah program keahlian. Ada tantangan untuk membangun karakter jurusan, menentukan bagaimana siswa belajar, bagaimana mereka bersikap, bagaimana mereka menggunakan teknologi, dan bagaimana teknologi tersebut dapat menjadi keterampilan yang benar-benar berguna.

2009 — Memasuki Lingkungan SMK Swadaya PUI Kuningan

Memulai perjalanan sebagai tenaga honorer dengan latar belakang dan aktivitas yang sangat dekat dengan dunia komputer serta pekerjaan teknis.

± 2011 — Mulai Dipercaya Mengajar

Ketika guru KKPI sebelumnya memasuki masa pensiun, saya mulai mengambil peran sebagai guru meskipun pada saat itu saya belum memiliki pengalaman mengajar seperti seorang guru pada umumnya.

2011 — Mengusulkan Pengembangan Jurusan TKJ

Berangkat dari pengalaman teknis dan kebutuhan pembelajaran komputer, muncul gagasan untuk menghadirkan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan.

2012 — TKJ Mulai Berdiri

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi jurusan TKJ yang menjadi ruang baru bagi siswa untuk belajar komputer dan jaringan secara lebih terarah.

2013 — Dipercaya Menjadi Kaprodi TKJ

Saya kemudian dipercaya melanjutkan pengembangan jurusan sebagai Kepala Program Keahlian TKJ.

2022 — Melanjutkan Perjalanan ke SMAN 1 Jalaksana

Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan SMK dan mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, perjalanan saya berlanjut ke SMAN 1 Jalaksana.

Menjadi Kaprodi Bukan Sekadar Mengurus Jurusan

Ketika dipercaya menjadi Kaprodi TKJ pada tahun 2013, tanggung jawab saya tidak berhenti pada urusan administrasi jurusan. Saya melihat bahwa sebuah jurusan teknologi harus memiliki budaya belajar yang sesuai dengan karakter bidangnya.

Saya mulai mencoba berbagai inovasi dalam pengembangan kurikulum, cara mengajar, pembiasaan siswa, etika penggunaan teknologi, hingga cara siswa melihat profesi dan dunia kerja.

Bagi saya, siswa TKJ tidak cukup hanya mampu memasang jaringan, memperbaiki komputer, atau menjalankan sebuah aplikasi. Mereka juga harus belajar bagaimana bersikap, berkomunikasi, bekerja sama, bertanggung jawab, dan menggunakan teknologi secara benar.

Karena itu, proses pendidikan saya coba bangun tidak hanya berorientasi pada skill, tetapi juga pada karakter dan cara berpikir.

Dari Teknisi Menjadi Pembuat Sistem

Pengalaman teknis tersebut kemudian membawa saya pada satu kebiasaan: ketika melihat pekerjaan yang berulang, saya mulai berpikir apakah pekerjaan tersebut dapat dibuat lebih sederhana dengan teknologi.

Saya mulai mengembangkan berbagai aplikasi sederhana yang digunakan untuk membantu pekerjaan. Ada yang berbasis CMS dan web application, ada pula yang memanfaatkan Macro di Microsoft Excel. Tidak semuanya merupakan aplikasi besar. Sebagian justru dibuat dari kebutuhan yang sangat sederhana dan sangat dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Namun dari sana saya belajar banyak hal tentang bagaimana sebuah aplikasi seharusnya dibuat: bukan sekadar dapat berjalan, tetapi harus mudah digunakan, sesuai kebutuhan, dan mampu mengurangi pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual.

⚙️ Bagi seorang teknisi, masalah adalah sesuatu yang harus diperbaiki. Bagi seorang pengembang sistem, masalah adalah sesuatu yang bisa diubah menjadi sebuah solusi.

Cara berpikir itulah yang kemudian terus saya bawa dari satu sekolah ke sekolah berikutnya.

Ketika Inovasi Belum Selalu Dipandang sebagai Solusi

Tidak semua inovasi yang dibuat langsung mendapatkan perhatian atau penghargaan. Beberapa aplikasi yang saya buat di lingkungan SMK pada waktu itu memang lebih banyak digunakan untuk membantu kebutuhan guru dan pekerjaan internal.

Karena dibuat untuk kebutuhan sendiri, ada kalanya aplikasi tersebut dipandang sederhana atau bahkan kurang diperhatikan. Tetapi bagi saya, hal tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar.

Saya semakin memahami bahwa nilai sebuah aplikasi tidak selalu ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang diberikan kepada penggunanya.

Dari pengalaman tersebut saya tidak berhenti membuat inovasi. Justru semakin terbentuk keyakinan bahwa teknologi pendidikan harus dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi oleh sekolah.

Memasuki SMAN 1 Jalaksana: Tantangan yang Berbeda

Pada tahun 2022, saya melanjutkan perjalanan ke SMAN 1 Jalaksana. Lingkungannya berbeda. Kebutuhannya berbeda. Karakter pengguna dan proses kerjanya pun berbeda.

Tetapi saya kembali menemukan sesuatu yang sangat familiar: banyak pekerjaan sekolah yang masih memiliki ruang untuk dikembangkan melalui teknologi.

Saya melihat digitalisasi bukan hanya tentang membuat sebuah website sekolah. Digitalisasi seharusnya menyentuh berbagai aspek pekerjaan, mulai dari informasi, administrasi, presensi, pengelolaan data, komunikasi, hingga pelayanan kepada warga sekolah.

Di sinilah pengalaman saya sebagai teknisi, guru, pengembang aplikasi, dan sebelumnya sebagai Kaprodi TKJ kembali bertemu dalam satu titik: mencari persoalan, memahami kebutuhan pengguna, kemudian membangun solusi.

Membangun Web Sekolah dan Sistem Digital Lainnya

Salah satu langkah awal yang kemudian saya kembangkan adalah membangun dan mengembangkan Web Sekolah. Dari sana gagasan digitalisasi berkembang ke berbagai kebutuhan lainnya.

Mulai dari portal presensi pegawai, presensi siswa, sistem informasi, pengelolaan data, hingga berbagai aplikasi pendukung administrasi sekolah mulai dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Setiap aplikasi memiliki cerita dan masalahnya masing-masing. Tidak semuanya langsung sempurna. Ada proses mencoba, menguji, menemukan kesalahan, memperbaiki, kemudian mencoba kembali.

Dan justru proses itulah yang saya nikmati. Karena bagi saya, pengembangan aplikasi bukan hanya pekerjaan menulis kode. Ia merupakan proses memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja.

Presensi Digital: Contoh Sederhana dari Sebuah Kebutuhan

Sistem presensi digital menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kebutuhan sederhana dapat berkembang menjadi sebuah sistem.

Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana membuat tombol presensi atau menyimpan waktu kehadiran. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana data kehadiran dapat dicatat dengan benar, bagaimana pengguna dapat menggunakannya dengan mudah, bagaimana data dapat direkap, dan bagaimana informasi tersebut dapat membantu pekerjaan sekolah.

Dari perspektif teknis, sistem membutuhkan database, alur proses, validasi, keamanan, antarmuka, dan mekanisme rekapitulasi. Tetapi dari perspektif pengguna, semua itu harus terasa sederhana.

“Kerumitan seharusnya berada di balik sistem. Pengguna justru harus merasakan kemudahan.”

Pengalaman sebagai Teknisi Tetap Menjadi Dasar

Jika saya melihat kembali perjalanan tersebut, sebenarnya tidak ada bagian yang benar-benar terpisah. Pengalaman sebagai teknisi komputer menjadi dasar cara saya memecahkan masalah. Pengalaman sebagai guru mengajarkan saya memahami manusia dan proses belajar. Pengalaman sebagai Kaprodi mengajarkan saya mengelola program, membangun budaya, dan melihat kebutuhan secara lebih luas.

Kemudian semua pengalaman tersebut bertemu ketika saya mulai membangun sistem digital di sekolah.

Karena itu, ketika membuat aplikasi, saya tidak hanya melihat dari sisi programmer. Saya juga melihatnya dari sisi guru, tenaga kependidikan, siswa, operator, dan pengguna lain yang nantinya akan berinteraksi dengan sistem tersebut.

Teknologi Bukan Tujuan Akhir

Ada satu prinsip yang semakin saya pahami selama perjalanan tersebut: teknologi bukan tujuan akhir.

Website, database, aplikasi presensi, CMS, Macro Excel, maupun sistem digital lainnya hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap sama, yaitu membantu manusia bekerja lebih baik.

Jika sebuah aplikasi terlihat canggih tetapi pengguna kesulitan menggunakannya, maka masih ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, sebuah sistem yang sederhana tetapi mampu menghemat waktu, mengurangi kesalahan, dan membuat pekerjaan lebih mudah justru memiliki nilai yang besar.

Dari Pengalaman Menjadi Kebiasaan Berinovasi

Perjalanan dari tahun 2009 hingga berada di SMAN 1 Jalaksana pada tahun 2022 dan seterusnya bukanlah perjalanan yang selalu lurus. Ada perubahan peran, perubahan lingkungan, kegagalan, keterbatasan, dan berbagai tantangan.

Tetapi ada satu hal yang tetap sama: kebiasaan untuk melihat masalah sebagai peluang untuk membuat sesuatu yang lebih baik.

Dulu saya melihat komputer dari meja seorang teknisi. Kemudian saya melihat teknologi dari ruang kelas. Setelah itu saya melihatnya dari sudut pandang seorang pengelola program keahlian. Kini saya melihat teknologi sebagai bagian dari transformasi pekerjaan di lingkungan sekolah.

Penutup: Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai

Saya tidak pernah memulai perjalanan ini dengan sebuah rencana besar untuk menjadi pengembang sistem digital sekolah. Semuanya berawal dari pekerjaan teknis, kemudian masuk ke ruang kelas, dipercaya mengembangkan jurusan, membuat aplikasi untuk kebutuhan sederhana, dan akhirnya membawa pengalaman tersebut ke lingkungan sekolah yang lebih luas.

Dari seorang teknisi komputer, saya belajar tentang perangkat dan sistem. Dari seorang guru, saya belajar tentang manusia. Dari seorang Kaprodi, saya belajar tentang pengelolaan dan pengembangan. Dari proses membangun aplikasi, saya belajar tentang bagaimana teknologi harus benar-benar memberi manfaat.

Hari ini, ketika melihat berbagai sistem digital yang dikembangkan, saya tidak melihatnya hanya sebagai kumpulan kode program. Saya melihat di dalamnya ada proses panjang: pengalaman, kegagalan, pembelajaran, eksperimen, dan keinginan sederhana untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.

Dan mungkin, inilah makna sebenarnya dari inovasi: bukan tentang siapa yang membuat teknologi paling canggih, tetapi siapa yang mampu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan yang nyata.

✍ i@m_iding
Education • Technology • Digital Solution


WhatsAppFacebookTelegram
Ruang Interaksi

Diskusi & Komentar Artikel

Diskusi dimoderasi untuk menjaga percakapan tetap relevan, aman, dan nyaman bagi pembaca.

0 komentar
Belum ada komentar publik.Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan atau pertanyaan.
Tulis KomentarBagikan tanggapan AndaEmail hanya digunakan untuk moderasi dan tidak ditampilkan ke publik.

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui komentar dapat ditinjau, disunting untuk spam, atau tidak diterbitkan bila tidak relevan.

WA